Saya rasa jika masyarakat ingin pemikiran --merujuk pernyataan MUI-- yang dianggap menyimpang dari Muhammad Syahrur yang dipromosikan kembali oleh Abdul Aziz ini tidak lagi muncul di tahun-tahun yang akan datang, ada satu solusi.
Disertasi adalah wahana pengujian teori oleh teori. Solusinya adalah lawan disertasi dengan disertasi.
Masyarakat bisa beasiswakan seseorang atau beberapa orang yang memiliki kapasitas ilmu dan kedalaman pengetahuan tentang pemikiran Islam untuk lanjut studi Doktoral (S3). Kemudian dorong dirinya untuk menyusun disertasi yang membantah teori Syahrur tentang Milkun Yamin.
Jika mampu mempertahankan disertasi tersebut, maka ke depan secara akademik teori-teori Syahrur akan usang untuk dikaji di kalangan akademisi kampus.
Teori Syahrur ini sudah lama ada/beredar di kampus-kampus, dan sudah cukup banyak judul tugas akhir (skripsi/thesis) yang diluluskan dengan mengambil tema tentang kontribusi pemikiran Syahrur di dunia Islam.
Kitanya saja yang baru menyadari hal tersebut setelah viralnya disertasi Abdul Aziz.
Saran saya yang lain atas kegaduhan disertasi Milkun Yamin adalah jangan sampai terjadi stigma negatif yang digeneralisasikan terhadap institusi maupun pendidik di lingkungan perguruan tinggi Islam. Itu sangat tidak berfaedah dan cenderung lebih mengarah kepada pembunuhan karakter.
Menggenerasikan stigma negatif terhadap institusi dan tenaga pendidik bukanlah pilihan yang bijak.
Saya mengambil satu contoh yang jelas saja.
Dahulu, umat Islam memberikan stigma negatif terhadap Universitas Paramadina sebagai kampusnya sarang liberal dengan Nurkholish Majid alis Cak Nur sebagai motornya.
Saya yang waktu itu masih berseragam Putih abu-abu turut termakan dengan stigma tersebut hingga pernah terbersit dalam hati tidak mau jika ditakdirkan kuliah di sana. Takut terkontaminasi liberalisme.
Tapi kini apa yang terjadi? Fakta justru menunjukkan, Anies Baswedan yang sekarang menjadi hero bersama kelompok oposisi (yang dapat dilihat sebagai pengkritik utama disertasi yang viral itu) dulunya adalah rektor Paramadina. Dan, Muhammad Sohibul Iman, Presiden partai (kemungkinan besar) satu-satunya partai oposisi di parlemen, PKS, juga merupakan mantan rektor Universitas Paramadina.
Kenyataan ini memunculkan keabu-abuan pada stigmatisasi Paramadina. Kampus liberalkah? Atau kampus yang memunculkan tokoh muslimkah?
Dari situ, saya ingin berpesan. Berhentilah menstigmatisasi negatif institusi. Kita tidak pernah tahu, di masa depan, bisa jadi tokoh atau institusi yang dulunya dicap negatif, berbalik didukung dan dibela oleh kita. []
| Deden Gumilang. Penulis merupakan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadlul Ulum, Tasikmalaya.
Disertasi adalah wahana pengujian teori oleh teori. Solusinya adalah lawan disertasi dengan disertasi.
Masyarakat bisa beasiswakan seseorang atau beberapa orang yang memiliki kapasitas ilmu dan kedalaman pengetahuan tentang pemikiran Islam untuk lanjut studi Doktoral (S3). Kemudian dorong dirinya untuk menyusun disertasi yang membantah teori Syahrur tentang Milkun Yamin.
Jika mampu mempertahankan disertasi tersebut, maka ke depan secara akademik teori-teori Syahrur akan usang untuk dikaji di kalangan akademisi kampus.
Teori Syahrur ini sudah lama ada/beredar di kampus-kampus, dan sudah cukup banyak judul tugas akhir (skripsi/thesis) yang diluluskan dengan mengambil tema tentang kontribusi pemikiran Syahrur di dunia Islam.
Kitanya saja yang baru menyadari hal tersebut setelah viralnya disertasi Abdul Aziz.
Saran saya yang lain atas kegaduhan disertasi Milkun Yamin adalah jangan sampai terjadi stigma negatif yang digeneralisasikan terhadap institusi maupun pendidik di lingkungan perguruan tinggi Islam. Itu sangat tidak berfaedah dan cenderung lebih mengarah kepada pembunuhan karakter.
Menggenerasikan stigma negatif terhadap institusi dan tenaga pendidik bukanlah pilihan yang bijak.
Saya mengambil satu contoh yang jelas saja.
Dahulu, umat Islam memberikan stigma negatif terhadap Universitas Paramadina sebagai kampusnya sarang liberal dengan Nurkholish Majid alis Cak Nur sebagai motornya.
Saya yang waktu itu masih berseragam Putih abu-abu turut termakan dengan stigma tersebut hingga pernah terbersit dalam hati tidak mau jika ditakdirkan kuliah di sana. Takut terkontaminasi liberalisme.
Tapi kini apa yang terjadi? Fakta justru menunjukkan, Anies Baswedan yang sekarang menjadi hero bersama kelompok oposisi (yang dapat dilihat sebagai pengkritik utama disertasi yang viral itu) dulunya adalah rektor Paramadina. Dan, Muhammad Sohibul Iman, Presiden partai (kemungkinan besar) satu-satunya partai oposisi di parlemen, PKS, juga merupakan mantan rektor Universitas Paramadina.
Kenyataan ini memunculkan keabu-abuan pada stigmatisasi Paramadina. Kampus liberalkah? Atau kampus yang memunculkan tokoh muslimkah?
Dari situ, saya ingin berpesan. Berhentilah menstigmatisasi negatif institusi. Kita tidak pernah tahu, di masa depan, bisa jadi tokoh atau institusi yang dulunya dicap negatif, berbalik didukung dan dibela oleh kita. []
| Deden Gumilang. Penulis merupakan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadlul Ulum, Tasikmalaya.
Komentar
Posting Komentar